Cahaya Bulan

Senin, 30 Maret 2015

DOA TIDUR
Oleh, Fifi Luthfi AR

Sudah larut
jangan cemberut
tarik selimut 
bacalah ; Bismika Allahumma Ahya wa Bismika amut.
semoga mimpi kita terpaut
amin
Selamat Malam

Ciputat, 25 Maret 2015


TERSERAH
Oleh, Fifi Luthfi AR

Terserah Kau!
kau ingin merantau ke selatan, barat, timur, utara
terserah kau.

kau ingin naik becak
angkot
metromini
mobil pribadi
pesawat sekalipun. terserah kau.

lagi-lagi, terserah kau!
ingin singgah di pulau, selat, kota
terserah kau.

seberapa lama-pun
seminggu, sebulan, setahun, bertahun-tahun
terserah kau.

asal kau tak heran
engkau pulang, ada yang mengundang.

Ciputat, 25 Maret 2015



Senin, 16 Maret 2015



Aku Jatuh Padamu
Oleh, Fifi Luthfi AR

Aku jatuh padamu
Pada peraduan pertama dibawah langit jingga
Ku telisik sukma mu, ada aku bersemayam
Pun begitu dengan engkau
Diam-diam memompa jantungku

Aku jatuh padamu
Lihatlah, sebaris kalimat mengembang
Liar berbinar mata-mata pujangga memainkan sunyi
Hati siapa yang tak tercabik?
Bila ada rindu sampai pada telinga melalui puisi

Aku jatuh padamu
Terimakasih kau menjelma puisi-puisi rindu

Bekasi, 15 Maret 2015



Selasa, 10 Februari 2015



Surat
Oleh, Fifi Luthfi AR

Sudah ku selipkan pada celah pintu
Surat-surat itu
Harapku dalam sesak gulita; kau masih tahu jalan pulang
Bacalah!

Pada bagian isi
Jangan lupa kau cermati
Ada kalimat mengatung yang tak sanggup ku ungkap jelas
Semoga
Kau, pahami.


Bekasi, 8 Februari 2015
Nina Bobo
Oleh, Fifi Luthfi AR

Aku nyaris lumpuh dikutuk detik
Dirajam malam penuh duka
Lunglai di cambuk pilu
Tak sampai anganku bersua, habis terkikis rinduku terkekang

Dibuai angin begitu kelam
Berangsur-angsur aku tertidur pulas
Tanpa pencahayaan terang dimalam kelabu
Kau masih menyanyikan nina bobo tanpa jeda
aku terlena dalam pangkumu

Kau mantrai setiap jengkal ragaku
Tidur.. nak, tidur. Bermimpilah sepuas-puasnya
Temui ia yang kau sebut-sebut sang takdir
Dan ceritakan padaku dipagi hari


 Bekasi, 8 Februari 2015
 
Diam-Diam Jatuh Cinta
Oleh: Fifi Luthfi AR, Arini H, Anisa R. 
 
 
Kemarin, melalui mimpi kita bersua dalam hangat.
Desau angin berbisik lirih mengenai rindu yang enggan padam.
Di sana aku bisa mengingkari kenyataan.
Kita bisa terus bersua tanpa kenal bosan.
Bukankah itu yang selama ini kita semogakan?
Karena dalam jumpa tak sengaja mata kita bercerita tentang harap kita pada cinta.
Pada arti kata bersama; aku dan kamu.
Seiring pandang mata yang menyematkan kita pada asa,
meski dekap belum leluasa,
nyatanya kita masih bebas meminta dalam doa.
Dengarkanlah pada temaram panjang…
Ada yang diam-diam berbahasa, menyampaikan berpatah-patah kata.
Ada yang diam-diam mengucap amin dalam hatinya, karena doa untuk cinta.
Ada yang diam-diam merunduk karena menahan rindu dalam dada.
Ada yang diam-diam meradang bila ada yang lain dalam pandang kasihnya.
Ada yang diam-diam merasa diri paling tahu dan ingin tahu segalanya.
Ada yang diam-diam berdoa untuk tetap bisa bertemu mata.
Dan ada yang diam-diam jatuh cinta.

Bekasi-Sukabumi, 9 Februari 2015