Cahaya Bulan

Kamis, 21 September 2017

Saya Tidak Bisa Berpuisi

Saya diajarkan menulis, tetapi tidak bisa
menulis puisi. Tiap kali saya coba, tangan saya gemetar.
saya tidak bisa meraih pena.

lalu saya mencari cara untuk menikmati puisi.

saya ingin membaca puisi. tiba-tiba bibir saya kuncup
dan lidah saya kelu. rasa-rasanya seperti bisu.
saya putus asa, tetapi saya masih mencoba mendengarkan puisi.
sialnya saya mendadak tuli. saya tidak bisa dengar puisi.

saya putuskan untuk berpisah dengan puisi. saya sakit.

saya harus bagaimana?
saya sudah terlanjur ingin berpuisi
akhirnya saya belajar pada penyair-penyair rindu
tetapi tiada hasil. saya masih saja bodoh.

Ciputat, September-15-2017.

Kamis, 20 Juli 2017

Dalam Redup

Di redup cahaya
Dalam gelisah dan bayangan
Kunyalakan lagi lampion
Yang menggantung
Di sudut-sudut ruangan
Berpendar menyentuh ujung pandangan

Bau basah sunyi masih tinggal
Sejak kakinya berlalu dan berjejak
Serindu di tiap-tiap malam
Mencekik dan memekik
Melupakan arah ke mana-
Rindu berpulang

Ciputat, 20 Juli 2017.

Sabtu, 08 Agustus 2015



...........

Puisi rumpang itu belum juga kau sempurnakan
Masih menggantung belum bermakna
Apabila sempat engkau membaca
Sila kau lengkapi sesuka hati.

FLF - Bekasi, 9 Agustus 2015.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Terpenjara


Oh
Yang kau tulis hari itu
Sebait puisi
Maaf, kau dan puisimu terjerat
Di kedalaman jiwa, tak bisa lepas.

FLF- Bekasi, 4 Juli 2015



Jumat, 12 Juni 2015

Adakah Aku ?
Oleh, Fifi Luthfi AR

adakah aku menjelma mimpimu ?
adakah aku menjadi igauanmu ?
adakah aku sepasang mata tempat kau larut ?
adakah aku ?
 
 Bekasi, 13 Juni 2015
CERMIN
Oleh, Fifi Luthfi AR
lalu apa yang kau tunggu ?
memaku diri pada cermin yang bergantung
bertanya : siapa itu yang sedang termenung ? 
hanyut

Bekasi, 13 Juni 2015

Selasa, 05 Mei 2015



Selamat Ulang Tahun
Oleh, Fifi Luthfi AR

Detik fajar hingga temaram
Riuh berjingkrak-jingkrak tubuh separu baya
Berseragam hingga siang, berbekal buku dan kapur tulis
Kemudian menjelma juru masak kala petang
Menjadi pendongeng sewaktu temaram
Bersisa peluh di dahi lapang
Masih lekat di taburi akannya doa-doa malam

Duhai, kau perempuan tersayang
Dengan erat ku panjatkan suka cita
Terjuntai harap beriring
Bahagia membersamai sepanjang waktu
Ku dekap gelisahmu, berdoalah
Ku bisikkan hangat, kata-kata paling hangat
Selamat ulang tahun, perempuanku
Terlungkup peluk bidadari-bidadari buah cintamu

Bekasi, 15 Maret 2015