Cahaya Bulan

Rabu, 04 Februari 2015



Abstrak
Oleh, Fifi Luthfi AR

Hei
Sudah larut malam
Lekas kau tanggalkan segala rencana
Kau harus tidur
Ya, sudah tentu anak mama harus tidur
Yuk..
Kenakan dulu piyamamu
Kemudian bercermin,
dan lepas bulu mata palsu yang melekat pada kelopak matamu
Bermimpi
Dan kau boleh meletupkan janji yang membodohimu
Selamat bertugas dalam mimpi
Rencanakan lebih bagus janji yang akan kau ingkari
Pria perkasa (katanya)

Bekasi, 1 Februari 2015



Hilang
Oleh, Fifi Luthfi AR

Risau dalam dekap malam diujung minggu
Kuraba pilu yang menggantung sedari dulu
Koyak raga memikul benalu
Dalam doa subuh aku mengadu
Tentang siapa yang tengah ku rindu
Kamu, yang ku aminkan sebagai pelabuhanku
Katanya hilang sebab lelah menunggu

Bekasi, 1 Februari 2015

Rabu, 21 Januari 2015



Rinai Jelang Petang
Oleh, Fifi Luthfi AR

Dalam bias warna yang ku renungi begitu lugu
Selasar halaman basah digenangi, riak beradu.
Bersamaan dengan rinai di peraduan rindu
Menyeruak aroma hujan pada siang menjelang petang

Dalam imajinasiku, kau menjelma awan
Tempat rinai bergemul dan kemudian turun
Dalam imajinasiku, aku menjelma tanah
Tempat rinai kembali pada asal
Kau menitik dan aku menengadah

Rinai siang menjelang petang
Aku sang cakrawala terbentang jauh
Rumput, padang, dan ilalang
Lekas bergoyang dengan senang
Pandangi air mata langit mencari butir tanah
Kemudian mahluk bertulang menentang hujan

Pada rinai jelang petang

Bekasi, 20 Januari 2015


Alat Musik
Oleh, Fifi Luthfi AR

Malam ini aku menjelma sebuah Gitar
Petiklah daku
Semarakkan malam-malam kelabu
Nyanyikan lagu dengan syahdu

Esok malam aku menjelma sebuah seruling
Tiuplah daku
Cipatakan melodi merdu
Mainkan dengan hati yang baru

Esok lusa aku menjelma sebuah drum
Pukul daku mengebu-gebu
Hentakan malam dengan ceria
bahaskan aku sebagai pelepas amarah

Akhir pekan aku menjelma sebuah piano
Letakan jemarimu menari padaku
Suarakan rindu melalui nada-nadaku
Buat lantai dansa diketuk sepatu para pecandu rindu

Bekasi, 20 Januari 2015

Minggu, 18 Januari 2015




Obat
Oleh, Fifi Luthfi AR

Pada suatu pagi menjelang siang
Semak, ranting, dan akar basah diguyuri airmata langit
Jemari lentik bermahkota cincin dijari manis sebelah kiri masih terus menelisik rona wajah dan tubuh jenjang yang biasa tersipu
Belum sempat si gadis bermandikan air kolam yang dingin menampar kulit, ia terus memetik aksara yang di jatuhkannya pada sebuah kertas putih selaras dengan baju berkerah putih yang ia kenakan.

Dibalik jendela, ia menilik rinai yang masih betah meresep kedalam tanah
Di telusurinya setiap jengakal sudut-sudut halaman depan rumah begitu leluasa
Rupanya ada seorang tabib yang menawarkan obat penyembuh macam-macam luka, berteduh dan singgah di saung tempat bercengkrama kanak-kanak sewaktu sore tiba.
Nampak berjejer racikan obat herbal butannya dalam sebuah tungku kayu yang diletakkannya di saung bambu beratapkan jerami.
Ia merangkul dengkul dengan lengannya yang basah sebab terbias rinai hujan, kemudian matanya secepat kilat menangkap siluet yang berbayang dibalik tirai. Dengan cekatan ia memikul tungku kayu dan menghampiri si gadis berbaju kerah putih
Ditawarinya macam-macam obat jualnnya
Ada obat luka bacok, luka tembak, luka panah, bahkan sampai penyakit semacam bisul, kutil, dan kurap-pun ada obat penyembuhnya.

Kemudian si gadis mengamati jejeran obat ditungku kayu sang penjual
Matanya bergerak lincah dari satu sudut ke sudut lain, mencari-cari sesuatu yang nampak belum ia temui.
Pak...
Sapa si gadis dengan tenang
Iya... ada apa dik? Jawab sang penjual
Bapa menjual macam-macam obat penyembuh luka ? Tanya si gadis.
Ya, tentu saja saya menjual. Adik ingin mencari obat luka apa ? biar saya bantu. Sang penjual menawarkan.
Obat luka hati ada pak ?
Hening

Bekasi, 19 Januari 2015